Asatu media ,- Ruangan Musyawarah Kabupaten Takalar masih menyisakan hawa tegang, meski palu sudah diketok. Keputusan telah bulat: Pak Rahman resmi menjabat Ketua ESI Takalar, didampingi perangkat pengurus baru. Selamat dan sukses bergemuruh, namun di balik itu, sebuah kenyataan pahit menyergap, membuat udara tiba-tiba terasa berat. “Pertandingan Pra-Porprov tinggal seminggu lagi, Pak,” suara sekretaris ESI menginterupsi kelegaan sesaat.
Seminggu. Hanya tujuh hari! Bagaimana mungkin sebuah kepengurusan baru, yang bahkan belum sepenuhnya solid, bisa mempersiapkan kontingen untuk ajang sepenting Pra-Porprov? Dana belum cair, fasilitas latihan belum terkoordinasi, bahkan daftar kebutuhan atlet pun masih sebatas coretan kasar.
Tim Dengan wajah yang awalnya sempat pias, segera mengubah rautnya menjadi penuh tekad. Ini bukan sekedar jabatan, ini adalah amanah, kehormatan daerah. “Tidak ada waktu untuk mengeluh,” tegas, “Kita bergerak sekarang!”
Maka dimulailah minggu paling gila dalam sejarah ESI Takalar. Rapat maraton dilakukan setiap malam hingga dini hari, menyatukan kesunyian kantor yang biasanya sepi. langsung memimpin, mendelegasikan tugas dengan kecepatan kilat, memastikan setiap anggota pengurus bergerak efisien.
Mereka menghubungi sponsor lokal yang peduli, mengetuk pintu-pintu instansi terkait, bahkan menggunakan dana bantuan pribadi untuk menutupi kebutuhan mendesak. Dalam hitungan jam, bukan hari, fasilitas latihan dadakan untuk tim PUBG Mobile Takalar berhasil disewa. Gizi atlet memantau ketat, vitamin disiapkan, hingga akomodasi dan transportasi menuju lokasi pertandingan Pra-Porprov diatur dengan detail.
Tim PUBG Mobile ESI Takalar awalnya sedikit demotivasi karena minimnya persiapan. Namun, melihat kekecewaan dan dedikasi pengurus baru, semangat mereka terpompa kembali. Dukungan yang diberikan, walaupun serba cepat dan darurat, terasa tulus dan total. Mereka merasa “diperhatikan”, bukan lagi “ditinggalkan”. Tujuh hari terasa seperti sehari, namun pekerjaan yang terselesaikan sebanding dengan sebulan.
Hari-H Pra-Porprov tiba. Ketegangan terlihat jelas di wajah para atlet, namun di balik layar, tim tak henti-hentinya memberikan dukungan moral, memastikan semua kebutuhan non-teknis terpenuhi agar atlet bisa fokus seutuhnya pada pertandingan. Setiap tembakan, setiap pergerakan strategi di dalam game, adalah pertaruhan. Bukan hanya sekedar permainan, ini adalah kehormatan Takalar, sebuah pembuktian bahwa keterbatasan waktu tak mampu menjamin semangat juang.
Sorak sorai pecah. Tangis haru tak terbendung, baik dari para atlet yang lelah namun bahagia, maupun dari para pengurus yang wajahnya kusam karena kurang tidur namun memancarkan senyuman lega tak terkira. Monitor besar menayangkan hasilnya: ESI Takalar lolos! Kualifikasi Pra-Porprov telah mereka taklukkan, tiket menuju Porprov Wajo – Bone di tangan!
Hari ini, nama PUBG ESI Takalar terukir sebagai salah satu kontingen yang akan berlaga di Porprov Wajo – Bone tahun depan. Sebuah perjalanan singkat yang penuh liku, tekanan waktu yang ekstrem, namun berhasil diubah menjadi sebuah kisah inspiratif tentang dedikasi, kolaborasi, dan semangat pantang menyerah.
Perjuangan belum usai. Porprov Wajo – Bone menanti di tahun depan, dengan persiapan yang diharapkan jauh lebih matang. Namun, satu hal yang pasti, ESI Takalar telah membuktikan bahwa dengan kepengurusan tanggap yang solid dan cepat, bahkan dalam situasi paling mepet sekalipun, prestasi emas dapat digenggam. Dengan semangat yang sama, tekad yang bulat, Takalar siap terbang lebih tinggi lagi.











