MAROS A1 MEDIA – Di ruang kerja Kapolres Maros yang dikelilingi atribut kepolisian dan poster kampanye keamanan, pertemuan hangat berlangsung pada Senin (09/02). Kapolres Maros, AKBP Douglas Mahendrajaya, S.H., S.I.K., M.I.K., M.Tr.Opsla, secara resmi menerima delegasi Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Maros. Kunjungan ini menjadi momentum penting bagi kedua institusi untuk memperkuat kemitraan dalam melayani kepentingan masyarakat yang semakin kompleks di era informasi.
Dari Silaturahmi ke Sinergi Strategis
Ketua SMSI Maros, Harmin Thomaru, membuka pertemuan dengan menegaskan visi yang saling melengkapi. “Kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi,” kata Harmin, disambut anggukan pengurus media siber. “Kami ingin SMSI dan Polres Maros bersama-sama menjadi garda depan dalam memastikan informasi yang akurat, edukatif, dan terhindar dari hoaks.” Dengan jaringan Puluhan media anggota di Maros, Harmin menekankan peran kritis media sebagai penyambung antara warga dan lembaga pemerintah.
Di sisi lain, Kapolres Douglas menyambut inisiatif tersebut dengan tegas, mengingat tantangan informasi di era digital. “Media adalah mitra strategis dalam menjaga kamtibmas. Tanpa keterlibatan media yang profesional, Polri bisa kehilangan kesempatan untuk mengedukasi publik tentang tindakan preventif,” ujarnya, mantap. Ia menyoroti betapa pentingnya media sebagai policing by media—bukan hanya peliput, tapi juga agen preventif dalam menyelesaikan konflik sebelum merasuk ke perselisihan bermasalah.
Bersama Menjaga Tali Persaudaraan Virtual
Diskusi yang hangat berlangsung selama kurang lebih 60 menit menghadirkan dinamika unik. Dari penjelasan Harmin tentang protokol pemeriksaan fakta di SMSI hingga dorongan Douglas untuk menyertakan narasi siber dalam pelatihan jurnalis, keduanya bersepakat bahwa keamanan di Maros kini tergantung pada “simbiosis mutualisme” antara Polri dan media. Iptu Hasrul, Kepala Satuan Intelkam, menggarisbawahi pentingnya dialog terbuka: “Warga tidak lagi mempercayai hanya statemen resmi. Mereka butuh konten yang seimbang, termasuk analisis kebijakan Polri.”
Simbol Solidaritas di Akhir Perbincangan
Pertemuan ini dimeriahkan foto bersama dan atribut SMSI. AKBP Douglas memberikan sambutan khusus, meminta seluruh jurnalis SMSI menjadi “guardian of truth” (penjaga kebenaran). Sementara Harmin berjanji untuk memperluas program pelatihan kepada anggotanya, termasuk workshop tentang hukum pers dan antisipasi disinformasi.
Masa Depan Kolaborasi: Dari Ruang Kepolisian ke Masyarakat
Sebagai langkah lanjutan, kedua pihak sepakat menggelar forum rutin setiap kuartal, membentuk task force untuk isu kritis dan berita hoax. Namun, esensi dari pertemuan ini tidak hanya pada protokol kerja sama, melainkan pada ethos gotong royong: bahwa keamanan bukan hanya tanggung jawab Polri, tapi juga amanah media yang mengedepankan transparansi.
Dalam dunia di mana satu berita palsu bisa beredar seribu kali lebih cepat daripada kebenaran, kolaborasi Polres Maros dan SMSI ini menjadi contoh nyata bagaimana dua institusi dengan latar belakang berbeda bisa menyatu menghadapi tantangan zaman—dengan jemari menghimpun fakta, hati penuh tanggung jawab, dan tujuan yang sama: menjamin Maros tetap kondusif, damai, dan dikelola informasi yang jernih.










