MAROS – Komitmen Pemerintah Kabupaten Maros dalam mendorong budaya literasi kembali mendapat pengakuan di tingkat nasional. Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) Kabupaten Maros berhasil meraih penghargaan Sandya Praditya sebagai GPMB Terbaik Tahun 2026.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Ketua Pengurus Pusat GPMB, Herlina Mustikasari, M.A., Ph.D., dalam kegiatan yang berlangsung di Auditorium Perpustakaan Nasional, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Penyerahan penghargaan disaksikan Sekretaris Jenderal GPMB Pusat Nuradi Indrawijaya, Ketua I GPMB M.Kh. Rachman Ridhatullah, serta Deputi Bidang Sumber Daya Perpustakaan Nasional, Dr. Adin Bondar, M.Si.
Prestasi ini menjadi catatan istimewa karena GPMB Maros kembali mendapatkan penghargaan yang sama setelah sebelumnya meraih penghargaan Sandya Praditya pada 2024.
Tidak hanya GPMB Maros, Bupati Maros Dr. H.A.S. Chaidir Syam, S.IP., M.H., juga pernah menerima penghargaan dari Pengurus Pusat GPMB pada 2024 sebagai kepala daerah yang dinilai mendorong pengembangan minat baca di Indonesia.
Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap dukungan pemerintah daerah dalam membangun ekosistem literasi melalui kolaborasi berbagai pemangku kepentingan.
Dukungan kepala daerah dinilai memiliki peran penting dalam memperkuat gerakan literasi. Sebab, upaya membangun masyarakat yang gemar membaca membutuhkan keterlibatan pemerintah, komunitas, lembaga pendidikan, perpustakaan, serta masyarakat secara luas.
Wakil Sekretaris GPMB Maros, Ahmad Takbir Abadi, mengungkapkan bahwa pencapaian tersebut merupakan hasil dari konsistensi dan kerja kolaboratif yang terus dibangun selama ini.
Ia mengatakan, GPMB Maros tidak pernah berhenti mencari cara untuk menghadirkan program pembudayaan minat baca yang kreatif, inovatif, dan berdampak bagi masyarakat.
Menurutnya, berbagai keterbatasan dan tantangan dalam mengembangkan budaya membaca justru menjadi dorongan untuk terus melakukan pembaruan dalam menjalankan gerakan literasi.
Takbir menegaskan bahwa penghargaan bukanlah garis akhir perjuangan GPMB Maros. Sebaliknya, penghargaan tersebut harus menjadi penyemangat untuk memperluas gerakan dan meningkatkan manfaat literasi bagi masyarakat.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan gerakan literasi tidak cukup hanya dilihat dari penghargaan yang diterima, tetapi harus diukur melalui perubahan nyata dalam kebiasaan membaca masyarakat.
“Penghargaan ini jangan sampai membuat kita berpuas diri. Justru harus menjadi bahan bakar untuk melangkah lebih jauh. Perjuangan membangun budaya membaca masih panjang dan membutuhkan komitmen bersama,” demikian semangat yang disampaikan Takbir.
Gerakan literasi yang dibangun GPMB Maros juga tidak terlepas dari dukungan dan penguatan program GPMB Pusat di bawah kepemimpinan Bachtiar Adnan Kusuma, yang terus mendorong keterlibatan berbagai pemangku kepentingan pendidikan dalam membudayakan membaca.
Ke depan, GPMB Maros berharap sinergi dengan pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat semakin kuat agar gerakan literasi dapat menjangkau lebih banyak kalangan, khususnya generasi muda.
Literasi bukan sekadar kemampuan membaca buku, tetapi juga membangun kemampuan berpikir kritis, memperluas wawasan, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Dengan kembali meraih penghargaan nasional, GPMB Maros menegaskan komitmennya untuk terus menjaga semangat literasi. Sebab, penghargaan boleh menjadi kebanggaan, tetapi membangun masyarakat yang gemar membaca tetap menjadi tujuan utama.

