MAROS, A1 MEDIA — Himpunan Pelajar dan Pemuda Mahasiswa Indonesia (HPPMI) Maros Komisariat Universitas Negeri Makassar (UNM) menggelar aksi demonstrasi dalam rangka peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia sekaligus mendesak aparat penegak hukum agar membuka secara transparan penanganan sejumlah kasus dugaan korupsi di Kabupaten Maros.
Aksi yang berlangsung pada Selasa, 9 Desember 2025, ini digelar selama kurang lebih tiga jam. Massa aksi memulai kegiatan di depan Patung Kuda Pertamina, lalu melanjutkan orasi ke Markas Polres Maros dan Kejaksaan Negeri Maros.
Dalam aksinya, para demonstran menyampaikan tuntutan utama, yakni mendesak Polres Maros dan Kejaksaan Negeri Maros untuk memberikan klarifikasi serta transparansi terkait dugaan kasus korupsi outsourcing kereta api dan dugaan praktik mafia solar yang dilaporkan terjadi di Kecamatan Bontoa. Tuntutan tersebut muncul seiring banyaknya pertanyaan publik mengenai perkembangan penanganan dua kasus tersebut.
Aksi berlangsung dalam keadaan damai dan tertib tanpa adanya kericuhan. Namun, sempat terjadi perlambatan arus lalu lintas di sekitar lokasi aksi akibat konsentrasi massa di beberapa titik strategis.
Sasaran tuntutan massa aksi ditujukan langsung kepada Kapolres Maros dan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Maros. Di Polres Maros, massa aksi diterima oleh Kasat Reskrim Polres Maros yang menyampaikan bahwa penanganan dugaan kasus mafia solar di Kecamatan Bontoa telah diserahkan kepada Kejaksaan Negeri Maros untuk masuk ke tahap penyidikan.
Sementara itu, di Kejaksaan Negeri Maros, massa aksi mendapatkan tanggapan dari Kasi Intel, Andi Unru. Namun, jawaban yang disampaikan pihak kejaksaan dinilai belum memuaskan oleh massa aksi karena dianggap tidak memberikan penjelasan konkret terkait tuntutan yang disampaikan.
Aksi demonstrasi ini dipimpin oleh Jenderal Lapangan (Jenlap) Fahmi. Dalam pernyataannya, Fahmi menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk kontrol sosial mahasiswa terhadap penyelenggara negara, sekaligus pengingat agar aparat penegak hukum bekerja secara profesional, transparan, dan bebas dari intervensi.
Hingga aksi berakhir, situasi tetap kondusif dan massa aksi membubarkan diri secara tertib setelah menyampaikan seluruh tuntutan mereka.











