MAROS A1 MEDIA — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN), Siti Ainul Mardia yang berasal dari Fakultas Peternakan, sukses menyelenggarakan program kerja individu yang berfokus pada pemberdayaan ekonomi kreatif melalui pelatihan pembuatan “Abondang” (Abon Udang). Kegiatan inspiratif ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 17 Januari 2026, bertempat di Balai Pertemuan Desa Minasa Upa yang dihadiri oleh puluhan warga.
Program ini dilatarbelakangi oleh melimpahnya potensi hasil laut di Desa Minasa Upa, namun pemanfaatannya masih terbatas pada penjualan udang segar dengan harga yang relatif rendah saat musim panen tiba. Sebagai mahasiswa Fakultas Peternakan yang memahami teknik pengolahan hasil produksi hewan, Siti Ainul Mardia mencoba memberikan solusi melalui diversifikasi pangan guna meningkatkan nilai tambah (added value) komoditas lokal tersebut.
Suasana hangat dan penuh antusiasme menyelimuti lokasi kegiatan saat aroma rempah tradisional mulai tercium dari kuali besar yang digunakan untuk menyangrai udang. Dalam sesi pelatihan, Siti tidak hanya memberikan materi secara lisan mengenai teori pengawetan makanan, tetapi juga mengajak para ibu PKK untuk mempraktikkan langsung teknik pengolahan yang tepat. Salah satu fokus utamanya adalah cara menjaga tekstur abon agar tetap renyah, gurih, dan tahan lama tanpa menggunakan banyak minyak atau bahan pengawet kimia.
Program ini disambut baik oleh perangkat desa dan warga setempat. Kehadiran pelatihan pembuatan Abondang ini menjadi angin segar bagi ibu-ibu rumah tangga untuk membantu meningkatkan perekonomian keluarga tanpa harus meninggalkan kewajiban mereka di rumah. Dengan keterampilan baru ini, para ibu diharapkan dapat membuka usaha mikro yang mandiri.
Salah satu peserta, Ibu Salmiah, yang merupakan anggota aktif PKK Desa Minasa Upa, menyatakan kegembiraannya atas inovasi ini. Beliau merasa optimis bahwa produk Abondang bisa menjadi identitas kuliner baru dan sumber penghasilan tambahan bagi warga.
“Kami biasanya cuma masak udang dengan cara digoreng atau disambal biasa untuk makan sehari-hari. Ternyata kalau dibuat abon seperti ini rasanya sangat gurih dan bisa tahan berbulan-bulan. Ini peluang usaha baru buat kami di PKK yang sangat menjanjikan,” ujar Ibu Salmiah dengan penuh semangat.
Melalui program KKN ini, diharapkan masyarakat Desa Minasa Upa tidak lagi bergantung pada penjualan bahan mentah ke pasar tengkulak, melainkan mampu mandiri secara ekonomi melalui produk hilirisasi pangan yang kreatif dan kompetitif. Ke depannya, pihak pemerintah desa berencana untuk mengintegrasikan produksi Abondang ini ke dalam program Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Langkah ini diambil agar keberlanjutan produksi dan pemasaran produk dapat tetap terjaga dan berkembang lebih luas bahkan setelah masa KKN Siti Ainul Mardia berakhir.











