MAROS, A1 MEDIA – Gerakan “Hari Pertama Sekolah Bersama Ayah” dalam tahun ajaran baru telah menjadi fenomena nasional yang disambut positif oleh banyak pihak. Inisiatif yang bertujuan mempererat ikatan orang tua dan anak serta menunjukkan dukungan penuh terhadap pendidikan ini, secara umum dinilai memiliki tujuan yang sangat baik. Namun, di balik apresiasi tersebut, Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Kabupaten Maros menyoroti sebuah dimensi kemanusiaan yang sering terabaikan, yakni dampaknya terhadap anak-anak yatim.,Minggu (13/07/2025).
Menurut Riyan RH, Ketua Komnas Perlindungan Anak Kab. Maros, gerakan ini memang patut diapresiasi atas tujuannya yang mulia. Gerakan Hari Pertama Sekolah Bersama Ayah tujuannya sangat baik. Ini menunjukkan dukungan penuh orang tua terhadap pendidikan anak, mempererat bonding antara ayah dan anak, serta memberikan motivasi positif bagi mereka untuk memulai tahun ajaran dengan semangat,” ujar Riyan RH.
Namun, Riyan RH tidak berhenti pada pujian semata. Ia melanjutkan dengan sebuah peringatan penting yang menyentuh sisi kemanusiaan. “Tetapi, kembali kepada sisi kemanusiaan bahwa banyak anak yatim yang tercederai. Ketika mereka melihat teman-teman sebaya diantar oleh sosok ayah, sementara mereka tidak memiliki sosok tersebut, ini bisa menimbulkan luka emosional yang mendalam,” jelasnya dengan nada prihatin.
Pernyataan Riyan RH ini menyoroti sebuah realitas sosial yang sering luput dari perhatian publik. Bagi anak-anak yang beruntung memiliki ayah, momen diantar ke sekolah pada hari pertama bisa menjadi kenangan indah dan sumber kekuatan. Namun, bagi anak yatim, momen yang sama justru bisa memicu perasaan sedih, iri, atau bahkan terkucilkan karena ketiadaan sosok figur ayah yang mendampingi.
Komnas Perlindungan Anak Maros menekankan pentingnya empati dan kepekaan sosial dalam setiap gerakan publik. Meskipun tujuannya positif, dampak samping yang tidak disengaja terhadap kelompok rentan harus selalu menjadi pertimbangan. Anak yatim, yang sejak awal sudah menghadapi tantangan emosional dan sosial akibat kehilangan orang tua, membutuhkan dukungan dan lingkungan yang inklusif, bukan momen yang justru menyoroti kekurangan mereka.
Mencari Keseimbangan dan Solusi Inklusif
Menyikapi hal ini, Komnas Perlindungan Anak Maros berharap ada kesadaran lebih dari berbagai pihak, baik penyelenggara gerakan, pihak sekolah, maupun masyarakat luas. Beberapa langkah yang bisa dipertimbangkan untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif antara lain:
Pendidikan Empati: Mendorong sekolah untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang keanekaragaman latar belakang keluarga, menanamkan nilai empati, dan mengajarkan untuk saling mendukung.
Peran Komunitas: Komunitas atau yayasan dapat berperan aktif dalam mendampingi anak-anak yatim pada momen-momen penting seperti hari pertama sekolah, mungkin dengan sosok relawan atau pendamping yang bisa memberikan dukungan moral.
Fokus pada Esensi: Menggeser fokus dari “siapa yang mengantar” menjadi “pentingnya pendidikan dan semangat belajar.” Sekolah bisa menyambut semua siswa dengan cara yang meriah dan inklusif, tanpa menonjolkan perbedaan latar belakang keluarga.
Dukungan Psikologis: Pihak sekolah atau lembaga terkait dapat menyediakan layanan konseling atau pendampingan psikologis bagi anak-anak yang menunjukkan tanda-tanda kesedihan atau kecemasan pada momen-momen tertentu.
Pernyataan Riyan RH dari Komnas Perlindungan Anak Kab. Maros ini menjadi pengingat penting bahwa setiap gerakan sosial, meskipun bermaksud baik, harus selalu mempertimbangkan dampaknya secara menyeluruh terhadap semua lapisan masyarakat, terutama mereka yang paling rentan. Membangun masa depan yang lebih baik bagi anak-anak berarti menciptakan lingkungan yang penuh kasih, dukungan, dan inklusivitas bagi semua anak, tanpa terkecuali.











