A1 MEDIA – Di sebuah warung kopi tua di sudut kota, asap rokok melayang di udara, bercampur dengan aroma kopi tubruk yang pekat. Di sudut meja kayu yang sudah usang, duduklah Paklik Isnogud, seorang veteran wartawan yang kepalanya yang nyaris gundul, tetapi pikirannya masih tajam. Jemarinya yang keriput menggenggam rokok kretek, dan secangkir kopi hitam mengepul di hadapannya.
Seorang anak muda, berkemeja flanel dan membawa laptop, duduk di seberangnya dengan raut wajah penasaran, tiba-tiba membuka percakapan.
“Paklik,” katanya, “saya dengar di dunia kerja itu banyak orang pinter tapi nyebelin. Orang-orang menyebutnya dengan istilah, ‘brilliant jerk’. Itu maksudnya gimana, Paklik?”
Paklik Isnogud menyeringai kecil, meniupkan asap rokok ke udara, lalu mengaduk kopinya dengan sendok kecil yang bunyinya berdenting di bibir gelas.
“Ah, bocah. Dunia kerja itu bukan cuma soal pinter atau enggak. Dunia kerja itu seperti kapal layar di samudra. Kalau awak kapalnya cerdas tapi tukang bikin ribut, kapal bisa oleng sebelum sampai tujuan.”
Anak muda itu mengernyit. “Maksudnya?”
Paklik menyesap kopinya perlahan. “Ada orang yang jenius, idenya luar biasa, tapi tabiatnya macam ombak ganas di tengah laut. Dia bisa bikin kapal melaju kencang, tapi juga bisa menenggelamkan semua orang di dalamnya. Itulah brilliant jerk.
Brilliant jerk adalah istilah yang merujuk pada individu yang sangat cerdas dan berbakat dalam pekerjaannya, tapi memiliki sikap yang buruk, arogan, atau sulit bekerja sama dalam tim. Mereka mungkin aset bagi perusahaan karena kontribusi mereka yang luar biasa, tetapi di sisi lain, perilaku mereka yang beracun bisa merusak budaya kerja, menurunkan moral tim, dan bahkan menghambat inovasi.
Netflix, misalnya, punya kebijakan “No Brilliant Jerks”—mereka percaya bahwa meskipun seseorang berbakat luar biasa, jika mereka merusak tim, mereka tidak layak dipertahankan.
Arriana Huffington, pendiri The Huffington Post dan Thrive Global, juga pernah berbicara tentang pentingnya keseimbangan kerja dan kehidupan. Ia menekankan bahwa lingkungan kerja yang sehat lebih berharga dibanding individu brilian yang membawa energi negatif ke dalam tim.”
Paklik mengambil rokoknya lagi, mengisapnya dalam-dalam, lalu menghembuskan asap ke samping.
“Lihat Netflix. Mereka punya prinsip No Brilliant Jerks. Kenapa? Karena orang pintar yang suka bikin onar itu seperti api. Bisa menerangi jalan, tapi kalau tak dijaga, bisa membakar rumah. Di dunia kerja, yang dibutuhkan bukan cuma kepintaran, tapi juga kemampuan bekerja sama. Kalau ada satu orang yang merasa dirinya dewa, yang lain bisa kehilangan semangat dan akhirnya seluruh tim hancur.”
Anak muda itu mengangguk-angguk, lalu bertanya, “Jadi, lebih baik punya tim yang biasa-biasa aja tapi kompak, daripada punya satu genius yang bikin ribut?”
Paklik menyeringai lagi. “Nah, itu dia. Arianna Huffington pernah bilang, kerja itu bukan lari sprint, tapi maraton. Kalau ada satu orang yang lari ngebut sendiri dan ninggalin timnya di belakang, ujung-ujungnya semua kelelahan dan jatuh. Makanya, perusahaan besar sekarang lebih memilih orang yang bisa jalan bersama, bukan yang ngebut sendirian sambil menyikut orang lain.”
Ia menyesap kopi lagi, kali ini lebih dalam. “Di dunia jurnalisme pun sama, Nak. Dulu aku punya rekan kerja yang jenius. Tulisan-tulisannya tajam, analisisnya bikin gemetar pejabat. Tapi kelakuannya… waduh, macam bajak laut! Sok paling benar, nggak mau diajak kompromi, dan kalau dikritik, langsung naik pitam. Akhirnya? Bukannya jadi legenda, malah dijauhi semua orang. Jurnalisme adalah kerja tim. Kalau satu orang seenaknya, ya majalah atau korannya bisa bubar.”
Anak muda itu termenung, lalu bersuara pelan, “Jadi, lebih baik jadi orang yang bisa berlayar bersama, daripada jadi ombak besar yang cuma bisa menggulung kapal…”
Paklik Isnogud tertawa kecil. “Nah, itu kau paham, bocah! Dunia kerja itu bukan soal siapa yang paling pintar, tapi siapa yang bisa menjaga arah kapal tetap stabil sampai ke pelabuhan.”
Ia menepuk bahu anak muda itu, lalu menyesap sisa kopi tubruknya hingga habis, meninggalkan ampas di dasar gelas.
Di luar warung, matahari mulai condong ke barat, seperti memberi isyarat bahwa perjalanan masih panjang dan samudra kehidupan masih luas untuk dijelajahi.
Oleh : Wicaksono Ndoro Kakung











