A1 MEDIA – Bencana akibat tangan manusia adalah kejadian merusak yang timbul dari aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab, mencakup berbagai bentuk seperti pencemaran lingkungan (banjir akibat sampah, deforestasi, polusi), kecelakaan industri/teknologi (Chernobyl, Lumpur Lapindo), konflik sosial (perang, terorisme, kerusuhan), ancaman siber/biologis, dan perubahan iklim yang dipercepat oleh emisi gas rumah kaca. Peristiwa ini berbeda dari bencana alam murni, namun seringkali memperburuk dampak bencana alam yang sudah ada, menjadikannya lebih parah dan sulit ditangani.
Al-Qur’an secara jelas menyentuh tentang bencana akibat ulah manusia dalam Surat Ar-Rum (30:41), yang menyatakan: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Ayat ini memberikan pencerahan bahwa kerusakan yang terjadi di bumi bukan hanya kebetulan, melainkan seringkali akibat hasil tindakan manusia sendiri. Allah membiarkan sebagian akibat tindakan itu dirasakan agar manusia menyadari kesalahan dan kembali ke jalan yang benar, yaitu jalan yang menghormati alam dan sesama.
Dalam konteks itu, Al-Qur’an juga menceritakan kisah Nabi Nuh yang membuat kapal besar di gunung sebagai antisipasi banjir besar. Perintah itu datang langsung dari Allah SWT setelah dakwah Nabi Nuh selama ratusan tahun tidak diindahkan oleh kaumnya yang musyrik. Bahan bakar utama banjir yang akan datang adalah keingkaran dan kejahatan kaumnya, yang menjadi azab Allah yang akan menenggelamkan bumi. Kapal itu dibuat sebagai persiapan menyelamatkan orang beriman dan sepasang makhluk hidup, hingga akhirnya air bah melanda dan bahtera berlabuh di Gunung Judi.
Kisah Nabi Nuh ini seolah memperingatkan kita tentang pentingnya antisipasi dan tanggung jawab ketika kerusakan di bumi oleh ulah manusia sudah mencapai tingkat yang sulit dicegah. Membangun “bahtera di gunung” tidak hanya berarti menyiapkan sarana penyelamatan fisik, melainkan juga berarti melakukan upaya pencegahan sejak dini, memperbaiki perilaku yang merusak, dan membangun sikap keimanan yang membuat kita mendengar dan mematuhi petunjuk yang benar. Ia mengajarkan bahwa meskipun azab bisa datang akibat kesalahan manusia, ada jalan untuk menyelamatkan diri jika kita mau mendengar dan bertindak sesuai dengan petunjuk Allah.
Sebagai kesimpulan, bencana akibat tangan manusia adalah realitas yang kita hadapi saat ini, dan Al-Qur’an memberikan pandangan yang jelas tentang penyebabnya serta solusinya. Melalui ayat Surat Ar-Rum dan kisah Nabi Nuh, kita diajarkan untuk menyadari dampak tindakan kita, kembali ke jalan yang benar, dan selalu bersiap dengan antisipasi yang tepat. Hanya dengan begitu, kita bisa menghindari atau mengurangi dampak bencana dan menemukan jalan menuju kehidupan yang lebih sejahtera dan damai.
Oleh : Abustan Djunaidi (Ketua PC GP Ansor Maros)











