Close Menu
Asatu Media
  • HOME
  • NEWS
  • INFO DESA
  • NASIONAL
  • PEMERINTAHAN
  • DAERAH
  • EKOBIS
  • INFRASTRUKTUR
  • KRIMINAL
  • OPINI
  • TNI POLRI

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Bocah Enam Tahun Meninggal Di Kolam Renang, Pihak Keluarga Korban Minta Pertanggungjawaban Pengelolah!

September 16, 2026

Darurat Energi: PMII Maros Berikan Alarm Keras Pemkab Dan DPRD Maros!

September 12, 2026

BBM Langka, Warga Maros Mulai Ricuh: KNPI Maros Desak Pemda Jangan Tunggu Konflik Meluas

September 11, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Bocah Enam Tahun Meninggal Di Kolam Renang, Pihak Keluarga Korban Minta Pertanggungjawaban Pengelolah!
  • Darurat Energi: PMII Maros Berikan Alarm Keras Pemkab Dan DPRD Maros!
  • BBM Langka, Warga Maros Mulai Ricuh: KNPI Maros Desak Pemda Jangan Tunggu Konflik Meluas
  • SK Dibekukan, Pengurus DPD II KNPI Maros Angkat Bicara!
  • Puluhan Pedagang UMKM Jalbar Mamminasata Akan Di Tertibkan, Adhy Baskoro: Kami Butuh Dibina, Bukan Dibinasakan!
  • Listrik Mati, Aktivitas Warga Terganggu: HPPMI Maros Tagih Kompensasi PLN
  • Gerakkan Semangat Gotong Royong, Karang Taruna Maros Bantu Warga Hadapi Krisis Air Bersih
  • SMSI Maros Salurkan 10.000 Liter Air Bersih untuk Warga Bontoa Terdampak Kekeringan
Facebook X (Twitter) Instagram
Asatu MediaAsatu Media
  • HOME
  • NEWS
  • INFO DESA
  • NASIONAL
  • PEMERINTAHAN
  • DAERAH
  • EKOBIS
  • INFRASTRUKTUR
  • KRIMINAL
  • OPINI
  • TNI POLRI
Asatu Media
  • HOME
  • NEWS
  • INFO DESA
  • NASIONAL
  • PEMERINTAHAN
  • DAERAH
  • EKOBIS
  • INFRASTRUKTUR
  • KRIMINAL
  • OPINI
  • TNI POLRI
Home»OPINI»Masih Perlu Hari Pers Nasional?
OPINI

Masih Perlu Hari Pers Nasional?

By Februari 4, 2025
WhatsApp Facebook Copy Link Email
Share
Facebook WhatsApp Twitter Email

A1 MEDIA – Di sebuah warung kopi sederhana di pinggiran Jakarta, asap kretek Paklik Isnogud melayang-layang di antara gelas kopi hitam yang baru saja diaduk. Meja kayu yang sudah lecet di beberapa sudut menjadi saksi perbincangan rutin para wartawan muda yang haus cerita dan gosip terbaru. Kali ini, bukan skandal pejabat atau polemik media sosial yang jadi topik utama, melainkan sesuatu yang lebih getir: perpecahan di tubuh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

“Jadi, tahun ini ada dua perayaan Hari Pers Nasional, Paklik? Satu di Banjarmasin, satu di Pekanbaru ya?” tanya Joni, seorang wartawan baru yang masih sering keliru membedakan antara rilis pers dan berita.

Baca Juga:Jurnalisme di Tahun 2025: Harapan Baru untuk Para Penjaga Kebenaran

Paklik Isnogud terkekeh sambil menyalakan kretek barunya. “Luar biasa! PWI sukses besar! Dari satu organisasi jadi dua, tapi wartawannya masih tetap miskin, seperti kalian, hahaha…”

Para wartawan muda tertawa getir. Mereka paham betul bahwa di balik pesta dan seremoni yang dijanjikan kedua kubu, ada fakta yang tak bisa disembunyikan: industri media sedang megap-megap, jurnalis makin tak dihargai, dan independensi pers makin tipis, setipis kantong pemilik warung kopi.

Baca Juga:Tantangan Zaman : Paradoks Media Digital

“Paklik, kok bisa sih, persatuan pewarta itu sampai terpecah begini?” tanya Andi, yang gajinya ditebas 30 persen sejak enam bulan silam.

Paklik menghela napas panjang. “Gampangnya begini, Nak. Bayangkan ada dua ekor ikan di kolam yang sama. Kolamnya makin kotor, airnya makin dangkal, tapi dua-duanya tetap berebutan wilayah. Padahal, kalau mereka cerdas, harusnya kerja sama buat membersihkan kolam dulu, bukan malah ribut di dalamnya.”

PWI, yang dulu digadang-gadang sebagai rumah besar wartawan, kini lebih mirip seperti partai politik ketimbang organisasi profesi. Para pemimpinnya lebih sibuk mengurus legitimasi kongres dan klaim kepemimpinan ketimbang memikirkan nasib jurnalis yang tiap hari bertaruh nyawa di lapangan atau kehilangan pekerjaan karena media mereka bangkrut.

“Ini bukan soal Banjarmasin atau Pekanbaru,” lanjut Paklik. “Ini soal bagaimana organisasi wartawan yang harusnya menjadi garda terdepan malah berubah jadi pasar malam. Semua ingin panggung, semua ingin mikrofon, tapi tak ada yang benar-benar peduli apakah wartawan bisa hidup layak atau tidak.”

Sembari menyesap kopinya, Paklik menghela napas panjang. “Wartawan itu ibarat penulis sejarah yang bekerja dalam waktu nyata. Wartawan seperti kalian ini bukan tukang pencari panggung. Kalian bukan makelar pengaruh. Kalau organisasi wartawan ingin relevan, mereka harus kembali ke prinsip dasar: membela kebebasan pers, melindungi jurnalis, dan meningkatkan kesejahteraan anggotanya.”

Paklik menyedot rokok kreteknya dalam-dalam, lalu melepas keras asapnya ke udara, seperti membuang kesal. “Begini ya, Nak. Organisasi wartawan seharusnya berfungsi seperti koperasi, bukan kerajaan. Artinya, harus ada transparansi dalam keuangan, harus ada manfaat nyata bagi anggota, dan harus ada visi yang jelas tentang bagaimana menghadapi tantangan industri media yang makin suram.”

“Kalau organisasi wartawan cuma jadi alat politik atau batu loncatan ke kursi empuk, ya lebih baik dibubarkan saja!” ujar Paklik geram. “Wartawan butuh organisasi yang benar-benar bekerja buat anggotanya, bukan buat kepentingan segelintir elite!”

Joni kembali bertanya, “Paklik, kalau sudah begini, apa publik masih perlu peduli sama PWI?”

Paklik tersenyum sinis. “Itulah masalahnya, Nak. Wartawan itu sebenarnya bukan siapa-siapa tanpa kepercayaan publik. Kalau publik sudah tak peduli, tak percaya, dan tak melihat manfaat dari organisasi wartawan, maka PWI hanya akan jadi fosil di masa depan.”

“Di era digital ini, publik lebih percaya pada individu ketimbang institusi. Wartawan-wartawan independen yang berani dan kredibel lebih dihormati daripada organisasi yang penuh intrik. Jika PWI ingin tetap relevan, mereka harus menjawab pertanyaan sederhana: “Apa manfaat PWI buat wartawan dan buat masyarakat?”

“Selama mereka masih ribut soal kursi ketua dan bukan soal bagaimana menghidupi wartawan, maka publik akan semakin jauh, dan PWI akan jadi seperti rumah tua yang ditinggalkan penghuninya.”

Warung kopi makin ramai, suara debat di meja sebelah mulai mengalahkan suara motor yang lalu lalang di jalanan. Paklik Isnogud mematikan rokoknya, menatap para wartawan muda dengan mata penuh makna.

“Nasib pers itu ada di tangan kalian. Jangan terlalu berharap pada organisasi. Kalau mereka gagal, ya bikin jalan sendiri. Tapi kalau bisa diperbaiki, ya dorong perubahan dari dalam.”

Para wartawan muda mengangguk. Mereka paham. Dunia berubah, dan kalau organisasi wartawan tak mau berubah, maka sejarah akan melupakannya.

Paklik bangkit, merogoh saku dan melemparkan beberapa lembar uang ribuan ke meja. “Udah, kopi saya yang bayar. Anggap saja traktiran veteran yang masih waras.”

Mereka tertawa. Di tengah segala kekacauan, sinisme, dan cemoohan, satu hal masih tersisa: semangat untuk terus menulis, terus mengabarkan, dan terus mencari kebenaran.

Walaupun organisasi terbelah, jiwa jurnalisme sejati tak boleh ikut hancur. (*)

Oleh : Wicaksono Ndoro Kakung

Share. WhatsApp Facebook Twitter Email Telegram

Berita Terkait

Opini: KHITTAH NU DAN MASA DEPAN NU, Menimbang Kembali Arah Perjuangan Nadhlatul Ulama di Tengah Penentuan Kepemimpinan!

Agustus 29, 2026

81 Tahun Indonesia Merdeka: Ketika Seremonial Harus Berubah Menjadi Refleksi dan Keberpihakan kepada Rakyat

Agustus 17, 2026

Daerah Aliran Sungai dan Bangunan Padat Penduduk: Antara Kebutuhan Hidup dan Ancaman Pencemaran

Desember 27, 2025
Top Posts

Puluhan Pedagang UMKM Jalbar Mamminasata Akan Di Tertibkan, Adhy Baskoro: Kami Butuh Dibina, Bukan Dibinasakan!

September 7, 2026486

Retribusi Bahu Jalan Dipersoalkan, Puluhan UMKM Maros Keluhkan Dugaan Tagihan Bulanan Pihak Ketiga, Dishub Diminta Buka Dasar Hukumnya

September 3, 2026140

SK Dibekukan, Pengurus DPD II KNPI Maros Angkat Bicara!

September 9, 2026108

Meriahkan Hari Kemerdekaan RI ke-81, Warga RW 06 dan RW 08 Kelurahan Bontoa Kec. Mandai Gelar Berbagai Lomba

Agustus 17, 202670
Don't Miss
NEWS

Bocah Enam Tahun Meninggal Di Kolam Renang, Pihak Keluarga Korban Minta Pertanggungjawaban Pengelolah!

By A1 MediaSeptember 16, 20260

A1 MEDIA MAROS – Duka mendalam atas berpulangnya ABS, bocah enam tahun murid Sekolah Alam…

Darurat Energi: PMII Maros Berikan Alarm Keras Pemkab Dan DPRD Maros!

September 12, 2026

BBM Langka, Warga Maros Mulai Ricuh: KNPI Maros Desak Pemda Jangan Tunggu Konflik Meluas

September 11, 2026

SK Dibekukan, Pengurus DPD II KNPI Maros Angkat Bicara!

September 9, 2026
Stay In Touch
  • Facebook
  • Twitter
  • Pinterest
  • Instagram
  • YouTube
  • Vimeo

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

A1 Media
A1 Media

PENERBIT: PT MEDIA MARAK GRUP
AHU: 0001208.AH.01.01 TAHUN 2023
NIB: 3107220006806
NPWP: 85.901.397.1.809.000

Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp TikTok
Our Picks

Bocah Enam Tahun Meninggal Di Kolam Renang, Pihak Keluarga Korban Minta Pertanggungjawaban Pengelolah!

September 16, 2026

Darurat Energi: PMII Maros Berikan Alarm Keras Pemkab Dan DPRD Maros!

September 12, 2026

BBM Langka, Warga Maros Mulai Ricuh: KNPI Maros Desak Pemda Jangan Tunggu Konflik Meluas

September 11, 2026
Most Popular

Puluhan Pedagang UMKM Jalbar Mamminasata Akan Di Tertibkan, Adhy Baskoro: Kami Butuh Dibina, Bukan Dibinasakan!

September 7, 2026486

Retribusi Bahu Jalan Dipersoalkan, Puluhan UMKM Maros Keluhkan Dugaan Tagihan Bulanan Pihak Ketiga, Dishub Diminta Buka Dasar Hukumnya

September 3, 2026140

SK Dibekukan, Pengurus DPD II KNPI Maros Angkat Bicara!

September 9, 2026108
© 2026 A1 Media by Asatumedia.
  • Tentang Kami & Karir
  • Copyright
  • Redaksi A1 Media
  • Homepage

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.