A1 MEDIA – Di kantin sebuah perusahaan media di Jakarta, suasana terasa muram. Para wartawan muda duduk melingkar, menyeruput kopi yang lebih banyak rasa pahitnya daripada manisnya. Di tengah-tengah mereka, duduklah Paklik Isnogud yang terkenal dengan gaya sinis dan kata-kata yang tajam.
Paklik menghela napas panjang, seperti seorang kapten kapal tua yang melihat kapalnya perlahan tenggelam di tengah badai.
“Kalian tahu,” katanya sambil mengetuk meja dengan jarinya, “industri media sekarang ini seperti warung kopi pinggir jalan yang tiba-tiba harus bersaing dengan Starbucks dan robot barista. Kalian berusaha jual cerita, tapi AI dan algoritma sudah bikin berita jadi seperti mie instan—cepat, murah, tapi hambar.”
Seorang wartawan muda memberanikan diri bertanya, “Jadi apa yang harus kami lakukan, Paklik? Bertahan atau beradaptasi?”
Paklik tertawa kecil, getir. “Bertahan? Adaptasi? Itu seperti mencoba menambal perahu bocor dengan daun pisang di tengah tsunami. Lihat saja apa yang terjadi sekarang. Media konvensional kehilangan pendapatan iklan karena Google dan Facebook menyikat semuanya. AI mulai menggantikan pekerjaan kita—dari menulis berita sampai menganalisis data pembaca. Dan jangan lupa geopolitik! Dunia ini makin kacau; ekonomi kita terombang-ambing seperti layangan putus di musim hujan.”
Ia melanjutkan sambil menunjuk ke arah jendela, seolah-olah menunjuk ke dunia luar yang penuh ketidakpastian. “Kalian tahu apa yang dilakukan pemerintah? Mereka sedang berakrobat demi efisiensi anggaran belanjanya. Sementara itu, media kita berharap pada regulasi untuk berbagi kue pendapatan dengan raksasa teknologi asing. Tapi itu seperti berharap tikus bisa melawan gajah hanya karena ada aturan baru.”
Para wartawan muda diam, merenung dalam keheningan yang berat. Paklik mengangkat cangkir kopinya dan berkata dengan nada sinis, “Saran saya? Cari pekerjaan lain. Dunia ini tidak lagi butuh penulis berita; mereka butuh penghibur atau pedagang data. Kalau kalian tetap ingin jadi jurnalis, siapkan diri untuk jadi dinosaurus terakhir di zaman es digital ini.”
Salah satu dari mereka mencoba mengajukan argumen. “Tapi Paklik, bukankah inovasi bisa menyelamatkan kita? Seperti membuat konten multimedia atau menggunakan AI untuk mendukung pekerjaan kita?”
Paklik tersenyum tipis, sinis seperti biasa. “Inovasi? Itu hanya kata lain untuk ‘berjuang lebih keras agar tetap tenggelam lebih lambat.’ AI bukan alat bantu; ia adalah predator baru di rantai makanan industri ini. Dan kalian adalah mangsanya.”
Kantin itu kembali sunyi setelah kata-kata Paklik Isnogud menggema di udara. Para wartawan muda itu saling pandang, sebagian merasa tertantang, sebagian lagi merasa hancur.
Di luar jendela kantin, Jakarta terus bergerak—sebuah kota yang tak pernah tidur, meski mimpi-mimpi sebagian penghuninya mulai memudar di bawah bayang-bayang disrupsi zaman.
Oleh : Wicaksono Ndoro Kakung











