Close Menu
Asatu Media
  • HOME
  • NEWS
  • INFO DESA
  • NASIONAL
  • PEMERINTAHAN
  • DAERAH
  • EKOBIS
  • INFRASTRUKTUR
  • KRIMINAL
  • OPINI
  • TNI POLRI

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Puluhan Pedagang UMKM Jalbar Mamminasata Akan Di Tertibkan, Adhy Baskoro: Kami Butuh Dibina, Bukan Dibinasakan!

September 7, 2026

Listrik Mati, Aktivitas Warga Terganggu: HPPMI Maros Tagih Kompensasi PLN

September 7, 2026

Gerakkan Semangat Gotong Royong, Karang Taruna Maros Bantu Warga Hadapi Krisis Air Bersih

September 6, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Puluhan Pedagang UMKM Jalbar Mamminasata Akan Di Tertibkan, Adhy Baskoro: Kami Butuh Dibina, Bukan Dibinasakan!
  • Listrik Mati, Aktivitas Warga Terganggu: HPPMI Maros Tagih Kompensasi PLN
  • Gerakkan Semangat Gotong Royong, Karang Taruna Maros Bantu Warga Hadapi Krisis Air Bersih
  • SMSI Maros Salurkan 10.000 Liter Air Bersih untuk Warga Bontoa Terdampak Kekeringan
  • Usung Tema Solidaritas, PERSANI Maros Bersiap “Lari” Kumpulkan Medali Emas
  • Targetkan Semua Komite Miliki AD/ART, Dewan Pendidikan Maros Gelar Workshop di 14 Kecamatan
  • Tingkatkan Kapasitas Komite Sekolah, Dewan Pendidikan Roadshow 14 Kecamatan
  • Retribusi Bahu Jalan Dipersoalkan, Puluhan UMKM Maros Keluhkan Dugaan Tagihan Bulanan Pihak Ketiga, Dishub Diminta Buka Dasar Hukumnya
Facebook X (Twitter) Instagram
Asatu MediaAsatu Media
  • HOME
  • NEWS
  • INFO DESA
  • NASIONAL
  • PEMERINTAHAN
  • DAERAH
  • EKOBIS
  • INFRASTRUKTUR
  • KRIMINAL
  • OPINI
  • TNI POLRI
Asatu Media
  • HOME
  • NEWS
  • INFO DESA
  • NASIONAL
  • PEMERINTAHAN
  • DAERAH
  • EKOBIS
  • INFRASTRUKTUR
  • KRIMINAL
  • OPINI
  • TNI POLRI
Home»OPINI»Antara Tahta Dan Darah: Makassar 418 Tahun, Di persimpangan Raya Dan Tawuran!
OPINI

Antara Tahta Dan Darah: Makassar 418 Tahun, Di persimpangan Raya Dan Tawuran!

By November 9, 2025
WhatsApp Facebook Copy Link Email
Share
Facebook WhatsApp Twitter Email

A1 MEDIA – Setiap bulan November tiba, aura kemegahan dan nostalgia menyelimuti Kota Makassar. Perayaan Hari Ulang Tahunnya, yang kini menginjak usia ke-418 tahun, bukanlah sekadar peringatan tanggal lahir; ia adalah monumen hidup bagi kejayaan maritim, sejarah panjang para Daeng dan Nakhoda ulung, serta spirit perlawanan yang tak pernah padam di bawah panji Sultan Hasanuddin.

Makassar, ibu kota Sulawesi Selatan, selalu bercita-cita menjadi Kota Dunia—pusat niaga, gerbang timur Indonesia, dan smart city yang modern. Baliho-baliho ucapan selamat menghiasi jalanan protokol, seminar sejarah digelar, dan panggung-panggung hiburan merayakan capaian pembangunan. Namun, di balik riuhnya pesta dan gemerlap lampu kota, tersembunyi sebuah ironi kelam, sebuah kontradiksi yang mengoyak hati: perang kelompok (tawuran) yang tak kunjung usai.

Baca Juga:Jurnalisme di Tahun 2025: Harapan Baru untuk Para Penjaga Kebenaran

Kontras yang Menyakitkan: Pesta dan Luka

Bagaimana mungkin sebuah kota yang telah menapaki usia lebih dari empat abad, sebuah kota dengan warisan peradaban yang kaya, masih bergelut dengan konflik horizontal berbasis permukiman yang primitif dan destruktif?

Baca Juga:Tantangan Zaman : Paradoks Media Digital

Di satu sisi, kita merayakan 418 tahun pembangunan yang ditandai dengan infrastruktur megah, pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional, dan munculnya inovasi-inovasi pemerintahan. Kita membanggakan Jembatan Layang, proyek reklamasi, dan kampus-kampus bergengsi.

Di sisi lain, di lorong-lorong yang gelap, di perbatasan-perbatasan wilayah yang tak terlihat oleh mata turis, senjata tajam, busur panah (panah tradisional), dan batu-batu beterbangan menjadi pemandangan rutin. Kekerasan ini bukan lagi insiden sporadis; ia telah menjadi endemik kota, sebuah penyakit sosial yang kambuh setiap malam, merenggut korban jiwa, anak-anak muda, dan yang paling parah, merenggut rasa aman.

Perang kelompok tidak hanya merusak fasilitas umum atau memacetkan lalu lintas; ia menghancurkan psikologi kolektif warga. Ia menciptakan trauma, ketakutan, dan yang paling ironis, menodai filosofi leluhur kita sendiri: Sipakatau (saling memanusiakan) dan Sipakalebbi (saling menghargai).

Diagnosis Sosial: Akar Permasalahan yang Terlupakan

Untuk mengakhiri lingkaran kekerasan ini, kita harus berhenti melihat tawuran sebagai kenakalan remaja biasa. Ini adalah gejala akut dari kegagalan sistemik:

1. Ketidaksetaraan dan Marginalisasi: Perang kelompok sering berakar pada permukiman padat dan terpinggirkan. Kesenjangan ekonomi antara wilayah kota yang maju dan wilayah pinggiran menciptakan frustrasi, kecurigaan, dan persaingan antar-pemuda yang berebut identitas atau bahkan wilayah ‘kekuasaan’ informal (biasanya terkait narkoba atau parkir liar).

2. Gagalnya Intervensi Pendidikan dan Sosial: Kota merayakan capaian akademik, tetapi gagal menyediakan saluran dan kegiatan positif yang memadai bagi pemuda yang putus sekolah atau menganggur. Energi besar pemuda yang seharusnya menjadi motor pembangunan malah tersalurkan dalam ritual kekerasan yang destruktif.

3. Warisan Konflik yang Diwariskan: Beberapa konflik kelompok telah berakar puluhan tahun, menular dari generasi ke generasi. Anak-anak muda saat ini mungkin bahkan tidak tahu persis apa penyebab awal konflik, tetapi mereka merasa wajib meneruskan dendam atau mempertahankan kehormatan kelompok (siri’) yang seringkali disalahartikan.

4. Penegakan Hukum yang Represif Tapi Tidak Preventif: Aparat seringkali hanya bertindak setelah insiden terjadi (represif). Upaya pencegahan (preventif), seperti patroli rutin, edukasi di sekolah dan permukiman, serta pemetaan potensi konflik, masih lemah. Penangkapan dan pemenjaraan sementara seringkali tidak menyelesaikan akar masalah.

Merayakan 418 Tahun dengan Aksi Nyata

Perayaan HUT ke-418 seharusnya menjadi momentum introspeksi, bukan sekadar etalase kemajuan. Jika Makassar benar-benar ingin diakui sebagai Kota Dunia, maka indikatornya haruslah rasa aman, bukan hanya tinggi gedung.

Pemerintah Kota dan seluruh elemen masyarakat harus bergeser dari fokus seremonial menuju intervensi substansial:

1. Program ‘Rehabilitasi Wilayah Konflik’: Pemerintah harus menjadikan wilayah rawan tawuran sebagai prioritas utama pembangunan sosial-ekonomi. Ini bukan hanya soal membangun jalan, tetapi membangun pusat kegiatan pemuda, menyediakan pelatihan kerja (vokasi) yang relevan, dan menciptakan lapangan kerja lokal.

2. Peran Tokoh Adat dan Agama: Mengaktifkan kembali peran tokoh masyarakat, adat, dan agama (seperti Imam dan Ketua RT/RW) sebagai mediator dan pembentuk karakter. Mereka adalah garda terdepan untuk menerapkan Sipakatau di tingkat akar rumput.

3. Pendidikan Karakter dan Sejarah Lokal: Mengintegrasikan kisah-kisah heroik para pahlawan Makassar (Sultan Hasanuddin, Syekh Yusuf) bukan sekadar sebagai mitos, tetapi sebagai pelajaran tentang keberanian yang harusnya disalurkan untuk membangun, bukan menghancurkan. Ajarkan pemuda bahwa kehormatan (siri’) sejati terletak pada prestasi, bukan kekerasan.

4. Sinergi Aparat dan Komunitas: Kepolisian, Satpol PP, dan Babinsa harus bekerja sama secara integratif dengan komunitas. Bentuk tim deteksi dini berbasis komunitas yang mampu meredam konflik sebelum api menyala.

Makassar telah berdiri tegak selama 418 tahun, melewati badai kolonialisme dan gejolak politik. Kita memiliki modal sejarah, budaya, dan intelektual yang luar biasa.

Jangan biarkan perayaan megah ini hanya menjadi topeng yang menutupi luka terbuka di tubuh kota. HUT ke-418 ini adalah panggilan keras bagi kita semua: Makassar baru akan benar-benar merayakan kejayaannya ketika setiap lorongnya bebas dari ketakutan, dan setiap pemudanya memilih pena dan alat kerja, alih-alih panah dan parang.

Mari kita jadikan Makassar sebagai kota di mana tahta sejarahnya ditegakkan di atas fondasi perdamaian, bukan di atas genangan darah.

Oleh : Riyan Restu Hidayat, S.Sos., M.H. (Social Worker & Legal Consultants)

Share. WhatsApp Facebook Twitter Email Telegram

Berita Terkait

Opini: KHITTAH NU DAN MASA DEPAN NU, Menimbang Kembali Arah Perjuangan Nadhlatul Ulama di Tengah Penentuan Kepemimpinan!

Agustus 29, 2026

81 Tahun Indonesia Merdeka: Ketika Seremonial Harus Berubah Menjadi Refleksi dan Keberpihakan kepada Rakyat

Agustus 17, 2026

Daerah Aliran Sungai dan Bangunan Padat Penduduk: Antara Kebutuhan Hidup dan Ancaman Pencemaran

Desember 27, 2025
Top Posts

Retribusi Bahu Jalan Dipersoalkan, Puluhan UMKM Maros Keluhkan Dugaan Tagihan Bulanan Pihak Ketiga, Dishub Diminta Buka Dasar Hukumnya

September 3, 2026112

Meriahkan Hari Kemerdekaan RI ke-81, Warga RW 06 dan RW 08 Kelurahan Bontoa Kec. Mandai Gelar Berbagai Lomba

Agustus 17, 202670

Deru Mesin Mini di Atas Air: Event Jolloro Mini Jalawaru Cup 2026 Siap Digelar di Kalupenrang, Kec.Bontoa!

Agustus 14, 202643

Semarak Tradisi Pesisir: Perlombaan Jolloro Mini Jalawaru Cup 2026 di Maros Sukses Digelar, Diikuti Ratusan Peserta Se-Sulsel

Agustus 25, 202628
Don't Miss
NEWS

Puluhan Pedagang UMKM Jalbar Mamminasata Akan Di Tertibkan, Adhy Baskoro: Kami Butuh Dibina, Bukan Dibinasakan!

By A1 MediaSeptember 7, 20260

A1 MEDIA MAROS — Di bawah langit sore yang perlahan meredup, Jalan Baru (Jalbar) Mamminasata…

Listrik Mati, Aktivitas Warga Terganggu: HPPMI Maros Tagih Kompensasi PLN

September 7, 2026

Gerakkan Semangat Gotong Royong, Karang Taruna Maros Bantu Warga Hadapi Krisis Air Bersih

September 6, 2026

SMSI Maros Salurkan 10.000 Liter Air Bersih untuk Warga Bontoa Terdampak Kekeringan

September 5, 2026
Stay In Touch
  • Facebook
  • Twitter
  • Pinterest
  • Instagram
  • YouTube
  • Vimeo

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

A1 Media
A1 Media

PENERBIT: PT MEDIA MARAK GRUP
AHU: 0001208.AH.01.01 TAHUN 2023
NIB: 3107220006806
NPWP: 85.901.397.1.809.000

Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp TikTok
Our Picks

Puluhan Pedagang UMKM Jalbar Mamminasata Akan Di Tertibkan, Adhy Baskoro: Kami Butuh Dibina, Bukan Dibinasakan!

September 7, 2026

Listrik Mati, Aktivitas Warga Terganggu: HPPMI Maros Tagih Kompensasi PLN

September 7, 2026

Gerakkan Semangat Gotong Royong, Karang Taruna Maros Bantu Warga Hadapi Krisis Air Bersih

September 6, 2026
Most Popular

Retribusi Bahu Jalan Dipersoalkan, Puluhan UMKM Maros Keluhkan Dugaan Tagihan Bulanan Pihak Ketiga, Dishub Diminta Buka Dasar Hukumnya

September 3, 2026112

Meriahkan Hari Kemerdekaan RI ke-81, Warga RW 06 dan RW 08 Kelurahan Bontoa Kec. Mandai Gelar Berbagai Lomba

Agustus 17, 202670

Deru Mesin Mini di Atas Air: Event Jolloro Mini Jalawaru Cup 2026 Siap Digelar di Kalupenrang, Kec.Bontoa!

Agustus 14, 202643
© 2026 A1 Media by Asatumedia.
  • Tentang Kami & Karir
  • Copyright
  • Redaksi A1 Media
  • Homepage

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.