Close Menu
A1 MediaA1 Media

    Pemilihan RT di Makassar: Ajang Persatuan, Bukan Perpecahan!

    Desember 3, 2025

    LKBH Maros Jalin Silaturahmi dan Kerja Sama Strategis dengan Dandim 1422 Maros

    Desember 1, 2025

    Terbitnya AJB Tanpa Persetujuan 4 Ahli Waris, Ramlah dan Lidik Pro Maros Soroti Dugaan Peran Mantan RT, Lurah, dan Camat

    November 30, 2025

    KOPRI PC PMII Maros Gelar Malam Puncak Harlah ke-58: Perkuat Gerakan Perempuan Lewat Intelektual, Seni, dan Refleksi Perjuangan

    November 30, 2025
    Pos-pos Terbaru
    • Pemilihan RT di Makassar: Ajang Persatuan, Bukan Perpecahan!
    • LKBH Maros Jalin Silaturahmi dan Kerja Sama Strategis dengan Dandim 1422 Maros
    • Terbitnya AJB Tanpa Persetujuan 4 Ahli Waris, Ramlah dan Lidik Pro Maros Soroti Dugaan Peran Mantan RT, Lurah, dan Camat
    • KOPRI PC PMII Maros Gelar Malam Puncak Harlah ke-58: Perkuat Gerakan Perempuan Lewat Intelektual, Seni, dan Refleksi Perjuangan
    • Ahli Waris Bantah Perdamaian, Ketua LIDIK PRO Tegaskan Akta Jual Beli Tanpa Tanda Tangan Seluruh Ahli Waris Tidak Sah
    • KOPRI PC PMII Maros Peringati Harlah ke-58 dengan Penanaman Pohon, Pembacaan Shalawat Nariyah
    • HPPMI Maros Soroti Risiko Fiskal di Balik Rencana Pinjaman Rp100 Miliar PDAM dan Mendesak Transparansi Publik
    • Hari Guru Nasional di Maros: Ketika Pahlawan Pendidikan Terpinggirkan dari Panggung Penghargaan
    • Eks.Fungsioner PB HMI Mansyur Dalle Dorong Muh. Gemilang Pagessa Jadi Ketua DPD KNPI Sulsel, Representasi Suara DPD II
    • Ketika Seribu Jiwa Menari: Gelombang Budaya Membanjiri Pantai Lowita, Pinrang Memukau Dunia
    • Facebook
    • TikTok
    • Twitter
    • Instagram
    • Telegram
    • WhatsApp
    Facebook X (Twitter) Instagram
    A1 MediaA1 Media
    • KRIMINAL
    • TNI POLRI
    • Kesehatan
    • VIDEO
    • Buy Now
    Facebook X (Twitter) Instagram
    SUBSCRIBE
    • HOME
    • NEWS
    • INFO DESA
    • NASIONAL
    • PEMERINTAHAN
    • DAERAH
    A1 MediaA1 Media
    • HOME
    • NEWS
    • INFO DESA
    • NASIONAL
    • PEMERINTAHAN
    • DAERAH
    Home»OPINI»Antara Tahta Dan Darah: Makassar 418 Tahun, Di persimpangan Raya Dan Tawuran!
    OPINI

    Antara Tahta Dan Darah: Makassar 418 Tahun, Di persimpangan Raya Dan Tawuran!

    A1 MediaBy A1 MediaNovember 9, 2025Tidak ada komentar4 Mins Read
    Facebook WhatsApp Twitter Telegram Email

    A1 MEDIA – Setiap bulan November tiba, aura kemegahan dan nostalgia menyelimuti Kota Makassar. Perayaan Hari Ulang Tahunnya, yang kini menginjak usia ke-418 tahun, bukanlah sekadar peringatan tanggal lahir; ia adalah monumen hidup bagi kejayaan maritim, sejarah panjang para Daeng dan Nakhoda ulung, serta spirit perlawanan yang tak pernah padam di bawah panji Sultan Hasanuddin.

    Makassar, ibu kota Sulawesi Selatan, selalu bercita-cita menjadi Kota Dunia—pusat niaga, gerbang timur Indonesia, dan smart city yang modern. Baliho-baliho ucapan selamat menghiasi jalanan protokol, seminar sejarah digelar, dan panggung-panggung hiburan merayakan capaian pembangunan. Namun, di balik riuhnya pesta dan gemerlap lampu kota, tersembunyi sebuah ironi kelam, sebuah kontradiksi yang mengoyak hati: perang kelompok (tawuran) yang tak kunjung usai.

    Kontras yang Menyakitkan: Pesta dan Luka

    Bagaimana mungkin sebuah kota yang telah menapaki usia lebih dari empat abad, sebuah kota dengan warisan peradaban yang kaya, masih bergelut dengan konflik horizontal berbasis permukiman yang primitif dan destruktif?

    Di satu sisi, kita merayakan 418 tahun pembangunan yang ditandai dengan infrastruktur megah, pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional, dan munculnya inovasi-inovasi pemerintahan. Kita membanggakan Jembatan Layang, proyek reklamasi, dan kampus-kampus bergengsi.

    Di sisi lain, di lorong-lorong yang gelap, di perbatasan-perbatasan wilayah yang tak terlihat oleh mata turis, senjata tajam, busur panah (panah tradisional), dan batu-batu beterbangan menjadi pemandangan rutin. Kekerasan ini bukan lagi insiden sporadis; ia telah menjadi endemik kota, sebuah penyakit sosial yang kambuh setiap malam, merenggut korban jiwa, anak-anak muda, dan yang paling parah, merenggut rasa aman.

    Baca:  Kapan Berhenti Jadi Wartawan?

    Perang kelompok tidak hanya merusak fasilitas umum atau memacetkan lalu lintas; ia menghancurkan psikologi kolektif warga. Ia menciptakan trauma, ketakutan, dan yang paling ironis, menodai filosofi leluhur kita sendiri: Sipakatau (saling memanusiakan) dan Sipakalebbi (saling menghargai).

    Diagnosis Sosial: Akar Permasalahan yang Terlupakan

    Untuk mengakhiri lingkaran kekerasan ini, kita harus berhenti melihat tawuran sebagai kenakalan remaja biasa. Ini adalah gejala akut dari kegagalan sistemik:

    1. Ketidaksetaraan dan Marginalisasi: Perang kelompok sering berakar pada permukiman padat dan terpinggirkan. Kesenjangan ekonomi antara wilayah kota yang maju dan wilayah pinggiran menciptakan frustrasi, kecurigaan, dan persaingan antar-pemuda yang berebut identitas atau bahkan wilayah ‘kekuasaan’ informal (biasanya terkait narkoba atau parkir liar).

    2. Gagalnya Intervensi Pendidikan dan Sosial: Kota merayakan capaian akademik, tetapi gagal menyediakan saluran dan kegiatan positif yang memadai bagi pemuda yang putus sekolah atau menganggur. Energi besar pemuda yang seharusnya menjadi motor pembangunan malah tersalurkan dalam ritual kekerasan yang destruktif.

    Baca:  Transfer Daerah Menyusut, Gizi Rakyat Melimpah: Senja Kala Dana Desa, Fajar Program Pangan Bergizi

    3. Warisan Konflik yang Diwariskan: Beberapa konflik kelompok telah berakar puluhan tahun, menular dari generasi ke generasi. Anak-anak muda saat ini mungkin bahkan tidak tahu persis apa penyebab awal konflik, tetapi mereka merasa wajib meneruskan dendam atau mempertahankan kehormatan kelompok (siri’) yang seringkali disalahartikan.

    4. Penegakan Hukum yang Represif Tapi Tidak Preventif: Aparat seringkali hanya bertindak setelah insiden terjadi (represif). Upaya pencegahan (preventif), seperti patroli rutin, edukasi di sekolah dan permukiman, serta pemetaan potensi konflik, masih lemah. Penangkapan dan pemenjaraan sementara seringkali tidak menyelesaikan akar masalah.

    Merayakan 418 Tahun dengan Aksi Nyata

    Perayaan HUT ke-418 seharusnya menjadi momentum introspeksi, bukan sekadar etalase kemajuan. Jika Makassar benar-benar ingin diakui sebagai Kota Dunia, maka indikatornya haruslah rasa aman, bukan hanya tinggi gedung.

    Pemerintah Kota dan seluruh elemen masyarakat harus bergeser dari fokus seremonial menuju intervensi substansial:

    1. Program ‘Rehabilitasi Wilayah Konflik’: Pemerintah harus menjadikan wilayah rawan tawuran sebagai prioritas utama pembangunan sosial-ekonomi. Ini bukan hanya soal membangun jalan, tetapi membangun pusat kegiatan pemuda, menyediakan pelatihan kerja (vokasi) yang relevan, dan menciptakan lapangan kerja lokal.

    2. Peran Tokoh Adat dan Agama: Mengaktifkan kembali peran tokoh masyarakat, adat, dan agama (seperti Imam dan Ketua RT/RW) sebagai mediator dan pembentuk karakter. Mereka adalah garda terdepan untuk menerapkan Sipakatau di tingkat akar rumput.

    Baca:  Refleksi 97 Tahun Sumpah Pemuda: Peran Pemuda, Antara Badut dan Budak?

    3. Pendidikan Karakter dan Sejarah Lokal: Mengintegrasikan kisah-kisah heroik para pahlawan Makassar (Sultan Hasanuddin, Syekh Yusuf) bukan sekadar sebagai mitos, tetapi sebagai pelajaran tentang keberanian yang harusnya disalurkan untuk membangun, bukan menghancurkan. Ajarkan pemuda bahwa kehormatan (siri’) sejati terletak pada prestasi, bukan kekerasan.

    4. Sinergi Aparat dan Komunitas: Kepolisian, Satpol PP, dan Babinsa harus bekerja sama secara integratif dengan komunitas. Bentuk tim deteksi dini berbasis komunitas yang mampu meredam konflik sebelum api menyala.

    Makassar telah berdiri tegak selama 418 tahun, melewati badai kolonialisme dan gejolak politik. Kita memiliki modal sejarah, budaya, dan intelektual yang luar biasa.

    Jangan biarkan perayaan megah ini hanya menjadi topeng yang menutupi luka terbuka di tubuh kota. HUT ke-418 ini adalah panggilan keras bagi kita semua: Makassar baru akan benar-benar merayakan kejayaannya ketika setiap lorongnya bebas dari ketakutan, dan setiap pemudanya memilih pena dan alat kerja, alih-alih panah dan parang.

    Mari kita jadikan Makassar sebagai kota di mana tahta sejarahnya ditegakkan di atas fondasi perdamaian, bukan di atas genangan darah.

    Oleh : Riyan Restu Hidayat, S.Sos., M.H. (Social Worker & Legal Consultants)

    Share. Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit VKontakte Copy Link
    Previous ArticleTransfer Daerah Menyusut, Gizi Rakyat Melimpah: Senja Kala Dana Desa, Fajar Program Pangan Bergizi
    Next Article Milad Ke-62 HPPMI Maros: Satu Arah Menyongsong Era Emas Kepemimpinan Dirangkaikan Dengan Peresmian Sekretariat Baru
    A1 Media
    • Website

    Berita Lainnya:

    OPINI

    Suluk Tahunan Khalwatiyah Sammaniyah: Maros Menjadi Pusat Spiritualitas Nusantara

    November 21, 2025
    OPINI

    Transfer Daerah Menyusut, Gizi Rakyat Melimpah: Senja Kala Dana Desa, Fajar Program Pangan Bergizi

    November 8, 2025
    OPINI

    Refleksi 97 Tahun Sumpah Pemuda: Peran Pemuda, Antara Badut dan Budak?

    Oktober 29, 2025
    OPINI

    Kapan Berhenti Jadi Wartawan?

    Februari 20, 2025
    OPINI

    Dunia Kerja Generasi Z Antara Brilliant Jerk : No Brilliant Jerks

    Februari 6, 2025
    OPINI

    Masih Perlu Hari Pers Nasional?

    Februari 4, 2025
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Share In Touch
    • Facebook
    • WhatsApp
    • Instagram
    • TikTok
    • Telegram
    • Twitter
    Laman
    • Copyright
    • Disclaimer
    • Homepage
    • Pedoman Media Cyber
    • Privacy Policy
    • Redaksi A1 Media
    • Tentang Kami & Karir
      Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp TikTok
      © 2025 A1 MEDIA by WEBPro.ID.

      Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.