MAROS, A1 MEDIA – halaman UPTD SDN 21 Sanggalea terlihat lebih ramai dari biasanya. Beberapa guru sibuk menata ruang kelas, sementara anak-anak berbaris rapi menunggu giliran mengikuti pemeriksaan sederhana: tinggi dan berat badan mereka diukur menggunakan alat ukur baru yang tampak masih berkilau.
Hari itu, sekolah ini kedatangan tamu dari Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muslim Indonesia (LPKM UMI). Mereka datang bukan sekadar membawa materi ceramah, tapi juga seperangkat program yang menyentuh langsung kebutuhan anak dan guru.
Ada tiga agenda besar. Pertama, Skrining Pertumbuhan Anak Terpadu (SIPATU), sebuah program untuk memantau tumbuh kembang siswa. Dengan SIPATU, guru bisa mengetahui sejak dini apakah ada anak yang membutuhkan perhatian khusus dalam pertumbuhan.
Kegiatan kedua mencuri perhatian: “Mainkan Boneka Interaktif Cegah Kekerasan Seksual Anak” atau MA’BICARA. Lewat boneka, anak-anak diajak berdialog mengenai tubuh mereka, batasan yang harus dijaga, serta cara melindungi diri. “Anak-anak lebih mudah paham ketika belajar melalui permainan,” kata salah satu fasilitator dari UMI sambil memperlihatkan boneka yang bisa digerakkan dengan ekspresi lucu.
Agenda ketiga menyasar para guru: pelatihan penggunaan media berbasis digital dalam pembelajaran. Di tengah arus teknologi yang kian deras, para pendidik diajak berkenalan dengan cara-cara baru memanfaatkan media digital agar pembelajaran tidak monoton.
Tak hanya program, LPKM UMI juga meninggalkan jejak nyata berupa bantuan alat ukur tinggi badan, alat ukur berat badan, dan sebuah mini proyektor. Perangkat ini diharapkan memperkaya aktivitas belajar-mengajar. “Proyektor ini bisa kami gunakan untuk menampilkan materi, video, bahkan hasil kerja siswa,” ujar seorang guru dengan wajah berbinar.
Kepala sekolah UPTD SDN 21 Sanggalea Arifien Arif menyebut kerja sama ini sebagai merupakan angin baik bagi sekolah
“hembusan angin segar bagi sekolah. Kami bukan hanya mendapat pelatihan, tetapi juga peralatan yang langsung bisa digunakan sehari-hari,” katanya.
Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana perguruan tinggi dapat hadir langsung di tengah masyarakat, bukan sekadar lewat riset dan seminar, melainkan melalui sentuhan praktis yang menjawab kebutuhan sekolah dasar.











