MAROS, A1 MEDIA – Kampung Mangempang, Desa Toddopulia, Kecamatan Tanralili, seperti banyak desa di Kabupaten Maros, adalah kanvas hijau dan cokelat yang diukir oleh kerja keras dan kesederhanaan. Namun, di balik bukit-bukit kapur yang menjulang, ada raungan lain yang selalu mengikuti irama kehidupan: deru truk-truk tambang, monster kuning yang melaju membelah jalanan desa, membawa serta kekayaan alam, dan kadang, membawa serta duka yang tak terhingga.
Rabu, 3 September 2025. Pagi itu, udara masih menyimpan sisa embun, hangat dan menjanjikan. Muhammad (27) dan Hasnah (25) adalah bersaudara Mereka berdua berboncengan, sepeda motor bebek butut itu setia mengantar mereka mengarungi jalanan berdebu. Mungkin mereka sedang menuju Maros kota untuk bekerja dan mengejar Impian-impian itu, kecil namun berharga, berterbangan di udara seperti debu yang sesekali menemaninya.
Namun, di salah satu tikungan tajam setelah tanjakan, di tengah jalanan yang sehari-hari mereka lalui dengan hati-hati, takdir berbelok dengan kejam. Raungan mesin diesel yang memekakkan telinga tiba-tiba berubah menjadi jeritan panjang ban yang mengikis aspal, disusul suara hantaman benda keras yang meremukkan. Sebuah truk tambang pengangkut timbunan, si monster kuning bernomor polisi DD 8941 SG, melaju seolah tak terbendung, menabrak apa saja yang menghalangi jalannya.
Beberapa warga yang tengah beraktivitas di sekitar lokasi sontak terdiam. Detik berikutnya, jeritan dan teriakan pecah. Mereka berlari, jantung berdebar menumbuk rongga dada, firasat buruk menggelayuti. Ketika tiba, pemandangan itu terasa seperti adegan mimpi buruk yang paling mengerikan. Di tengah kepulan debu yang masih beterbangan, truk kuning itu berdiri kokoh, tanpa goresan berarti di badannya yang raksasa. Namun di bawahnya, di antara roda-roda besar yang kotor, sepeda motor Muhammad dan Hasnah sudah tak berbentuk. Hancur, ringsek, terjepit di bawah baja raksasa.

Dan di sampingnya… dua sosok tergeletak. Tanpa gerak. Tanpa suara. Laki-laki dan perempuan. Jasmani mereka yang tadi pagi penuh semangat, kini terlukiskan dalam kondisi yang tak terbayangkan. Darah membasahi aspal, bercampur debu dan kerikil. Saksi mata, seorang pria tua dengan wajah pucat pasi, tak kuasa menahan isakannya. “Anaknya orang, Lailaha Illallah, tasimbung simbung otaknya,” ucapnya lirih, berulang kali, suaranya tercekat oleh kengerian yang baru saja ia saksikan. Kepalanya menggeleng-geleng, seolah tak percaya pada apa yang dilihat matanya. Otak yang tadi pagi penuh rencana dan harapan, kini terhambur di jalanan.
Kerumunan warga mulai memadati lokasi. Amarah membara di mata mereka. Bukan kali ini saja insiden serupa terjadi. Truk-truk besar ini, yang harusnya menjadi tulang punggung perekonomian, seringkali menjadi momok maut di jalanan desa mereka yang sempit. Namun, kali ini, ada yang berbeda. Sopir truk kuning itu tidak terlihat. Dalam kepanikan dan gempuran emosi warga yang memuncak, ia memilih melarikan diri, meninggalkan dua nyawa yang direnggutnya, meninggalkan duka yang menganga, dan meninggalkan pertanyaan besar tentang tanggung jawab.
Tak lama kemudian, sirine polisi meraung memecah keheningan yang mencekam. Tim kepolisian langsung melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Garis kuning dipasang, membatasi warga yang berkerumun dengan tatapan nanar. Kamera merekam, petugas mencatat, mencoba menyusun serpihan-serpihan peristiwa kelam itu. Namun, bagi warga Mangempang, bagi keluarga yang kehilangan, tidak ada data atau rekaman yang bisa mengembalikan tawa Muhammad dan Hasnah. Tidak ada rumus fisika yang bisa menjelaskan mengapa impian sesederhana membeli perlengkapan rumah harus berakhir di bawah roda truk tambang.
Di bawah terik matahari Maros yang mulai meninggi, debu jalanan berpadu dengan air mata. Insiden ini bukan hanya sekadar kecelakaan lalu lintas. Ini adalah pengingat pahit tentang harga yang harus dibayar demi pembangunan, tentang kesenjangan antara ambisi ekonomi dan keselamatan warga. Di Mangempang, Rabu 3 September 2025 akan selalu dikenang sebagai hari kelabu, hari ketika dua impian muda terenggut, meninggalkan jejak debu, darah, dan pertanyaan yang terus menggema: sampai kapan lagi?











