A1 MEDIA – Di warung kopi yang penerangannya temaram, Paklik Isnogud masih duduk dengan khidmat di depan para wartawan muda yang ingin mendengar lanjutan dongeng tentang perjalanan media konvensional di era yang bergerak cepat.
Paklik menyeruput kopi tubruknya. Asap rokoknya berpilin-pilin ke udara, seperti pikiran yang sedang merangkai nasihat untuk para wartawan muda yang kini sibuk bermain ponsel mengarungi lautan digital.
“Kalian tahu, bocah-bocah,” katanya sambil mengelus janggut yang mulai memutih, “media digital memang kayak speedboat. Lincah, gesit, dan bisa berputar arah dalam hitungan detik. Sementara koran, majalah, atau TV berita itu kapal besar—kokoh, kuat, tapi kalau mau belok sedikit saja, harus pakai banyak perhitungan dan bisa makan waktu lama.”
Mendengar Paklik memulai lagi dongengnya, para wartawan muda yang mengelilinginya berhenti menatap ponsel. Mereka mengangguk-angguk seolah-olah paham kalimat Paklik. Beberapa dari mereka memang sudah tak pernah lagi menyentuh koran.
“Tapi, Paklik,” sahut salah satu yang paling muda, “bukankah speedboat itu lebih baik? Bisa lari kencang, langsung nyampe ke tujuan sebelum kapal besar sampai separuh perjalanan.”
Paklik tertawa kecil, menyentuh ujung rokoknya ke asbak. “Betul. Tapi ada satu masalah, Nak. Speedboat itu kecil. Kalau lautan sedang tenang, dia bisa melesat, bikin ombak kecil di belakangnya, bikin heboh. Tapi kalau tiba-tiba badai datang? Hancur sudah. Tenggelam, terbalik, atau hilang entah ke mana.”
Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya lebih pelan, seolah membisikkan rayuan maut kepada Mbak penjual kopi. “Begitu juga dengan media sosial dan berita digital. Ia cepat menyebarkan informasi, gampang dikonsumsi, tapi dangkal. Isinya gemerlap, tapi bisa bikin kepala kosong. Brain rot, istilah kerennya. Orang jadi malas berpikir, lebih suka yang instan. Daripada baca analisis panjang soal ekonomi, mereka lebih memilih video satu menit tentang pesohor yang makan bakso sambil ngoceh. Itu yang bikin speedboat tampak berbahaya, Nak.”
Wartawan muda itu termenung, tapi masih belum sepenuhnya yakin. “Tapi kan, Paklik, orang lebih banyak kongkow di ruang digital sekarang. Kalau kita masih mengandalkan cara lama, siapa yang bakal baca berita kita?”
Paklik Isnogud tersenyum. “Makanya kita harus cerdas, Nak. Bukan berarti kapal besar itu harus berhenti berlayar. Yang harus kita lakukan adalah belajar mengendalikan speedboat tanpa kehilangan nilai kapal besar itu sendiri.”
Ia menatap mereka satu per satu. “Kalian harus paham plus minusnya. Media digital memberi kita kecepatan, audiens yang luas, dan peluang untuk menjangkau mereka yang selama ini abai terhadap berita. Tapi di sisi lain, ia membuat orang kehilangan kesabaran untuk membaca lebih dari tiga paragraf. Ia menciptakan generasi yang lebih percaya judul bombastis daripada isi berita itu sendiri. Ia juga menumbuhkan keinginan untuk viral ketimbang kredibel.”
Paklik merogoh sakunya, mengeluarkan koran yang sudah agak kusut. “Ini,” katanya sambil menepuk-nepuk halaman koran, “adalah kapal besar. Dulu ia mendikte alur informasi. Sekarang, lautan sudah berubah, dan speedboat bermunculan. Tapi kau tahu kenapa kapal besar tetap penting?”
Wartawan muda menggeleng.
“Karena kapal besar bisa menampung lebih banyak orang. Ia lebih stabil dalam badai, dan kalau kau mau perjalanan panjang yang penuh wawasan, kau tak bisa mengandalkan speedboat kecil yang hanya bisa membawa beberapa orang dalam satu waktu. Jika kita ingin menyelamatkan dunia dari kebodohan, kita butuh lebih dari sekadar headline clickbait dan infografis warna-warni.”
Ia bersandar ke kursinya, menatap para yuniornya yang kini tampak lebih serius. “Jadi, Nak, jangan tertipu keluwesan speedboat digital. Manfaatkan kecepatannya, iya. Tapi jangan lupakan kedalaman dan kestabilan kapal besar. Kita tak boleh tenggelam dalam kilauan media sosial yang berkerlap-kerlip, tapi juga tak bisa bersikeras bertahan di kapal tua yang lapuk.”
Ia mengambil rokok linting terakhirnya, menyalakannya perlahan. “Kalau kau bisa menggabungkan kecepatan digital dengan kedalaman jurnalistik, kau akan jadi wartawan yang tak tergoyahkan. Kau akan jadi nakhoda sejati di lautan informasi yang liar ini.”
Para wartawan muda itu terdiam, menyerap nasihat Paklik Isnogud seperti anak-anak yang baru saja diceritakan kisah kuno yang penuh makna. Di luar warung, layar-layar ponsel tetap berkedip tanpa henti, menyebarkan berita yang mungkin esok pagi sudah terlupakan. Basi.
Oleh : Wicaksono (Ndoro Kakung)











